Hal pertama yang kuingat adalah, aku sedang berusaha kabur dari suatu gumpalan asap. Sepertinya ada bencana yang berkaitan sama asap, banjir, atau semacamnya. Aku kabur dan berusaha cari jalan buat bisa ke sisi lain dari lokasiku. Jadi aku seperti ada di suatu tempat tinggi, nah aku mau ke seberang dan itu lewatin jurang gitu.
Singkat cerita, aku yang nyusuri jalan sambil cari cara buat nyebrang pun sampe ke bawah atau intinya titik temu dari lokasiku sama tanah di seberang tadi, di situ ada orang2 berjubel seperti berusaha buat naik ke atas. Jadi aku berusaha cari jalan alternatif.
Aku nyelusup dan akhirnya nemu sebuah pendopo yang di situ orang2nya seperti minum jamu atau semacamnya, ada orang bilang "ayo diminum! Jamu ini bisa bikin imun kuat! Jamu anti corona. Terbukti ampuh!". Aku lewati tempat itu dan lanjut jalan. Sampe akhirnya aku ketemu orang yang bilang kalo bencana ini sudah berakhir.
Abis itu aku dibawa ke sebuah rumah atau green house gitu. Di tempat itu ada banyak tanaman. Aku diajak ketemu salah satu orang, seorang ibu2. Awalnya kukira ibuku sih, tapi ibu2 ini rambutnya masih item. Kami bertiga ngobrol sesuatu tapi aku ga denger. Perhatianku terfokus pada satu pohon semanggi di dinding deket tempatku. Aku kepikiran mau petik, lupa buat apa. Si pohon semanggi ini menjulur tapi nggantung. Jadi ada batangnya, pendek, kayu, panjang dan diameternya seukuran jari telunjuk, trus ujungnya tumbuh cabang berupa sulur yang jatuh ke bawah, nah masing2 sulur ini ditumbuhi daun2 yang bentuknya mirip daun semanggi berdaun 4. Pertama aku petik satu, trus aku padukan dengan kain atau apa yang kupegang. Kedua aku ambil satu lagi dan lakuin hal sama. Ketiga, karena si sulur ini ada 2 dan lebih pendek, aku cabut pohon semanggi ini, lalu aku kasih ke wanita tadi. Bahkan aku lempar semua barang tadi dan aku merasa butuh buat kembali ke tempat awal tadi. Bahkan kalo ga salah ada omongan "kamu harus pergi. Bentar lagi masuk jam sekolah".
Lalu aku pergi dan sampai di tempat yang sepertinya pendopo yang kulewatin tadi. Tapi tempat ini sepi. Aku coba masuk, kosong. Suasananya juga awut2an, kacau, berantakan. Aku liat sekeliling, kosong, sepi, berantakan, dan kotor. Kumuh. Aku malah ga tau kenapa cari WC padahal ga kebelet, cuma kepo aja. Dan ketika nemu kloset, aku bingung. Ini kloset kok tempatnya terbuka gini? Ga ada sekat atau semacamnya yang buat nutupin. Kesannya seperti ada di tengah tempat terbuka. Lalu aku keluar dari pendopo tadi. Aku liat di salah satu rumah ada anak cewe kulit gelap nangis2. Btw kulit gelapnya ini bukan negro sih kayanya. Lebih mirip orang timur tengah. Afghanistan atau sekitarnya mungkin. Bilang pengen berangkat sekolah atau apa. Saat itu aku merasa kalo aku pun udah telat.
Aku pun mulai melangkahkan kaki ke entah ke mana, mungkin sekolah atau lainnya. Next thing I remember is aku udah kembali ke alam nyata.